Perjuangan Yang Membutuhkan Rasa Sakit
Ustadz Danial MAg
Perjuangan Yang Membutuhkan Rasa Sakit - Sebelum nabu Isa lahir jauh sebelum rasulullah Muhammad SAW lahir dan arab menjadi sebuah Negara ada tiga peradapan kuno yang berpusat di tiga wilayah yaitu China, Mesir dan Romawi. Diera Romawi ada sebuah tradisi yang dicatat oleh para filosof dikalangan rakyat-rakyat romawi saat itu, yaitu tradisi merajah tato di tubuhnya, seorang pemuda datang menghadap tukang rajah. Wahai tukang rajah, rajahkan tato harimau dipundak, sang pengerajah mengambil alat-alat yang dibutuhkan dengan sketsa harimau yang telah disiapkan untuk merajah tato permintaan sang pemuda.
Mulailah pengerajah merajahkan tato dipundak sang pemuda dia membuat pertamakali mentato kepala harimau, pengerajah membuat kepala ternyata pedih dan sakit pemuda menjerit , apa yang telah telah kamu lakukan ? sang pengerajah menjawab saya sedang menggambar kepala harimau, karena pedih dan sakit pemuda tersebut berkata, buat saja harimau tanpa kepala. Lalu sang pengerajah membuat tubuh harimau, ketika tubuh mulai dibuat kembali pemuda menjerit sakit sekali, pedih dan ia bertanya sedang apa kamu?
Perjuangan Yang Membutuhkan Rasa Sakit
Saya sedang merajah tubuh harimau, gak usah kata pemuda tersebut ia berkata rajah saja harimau tanpa kepada dan tubuh, pengerajah lalu melukis ekor harimau dan kembali pemuda ini kesakitan dan mengatakan sedang apa kamu ? saya sedang membuat ekor hariamu yang tuan pesan. Pemuda itu berkata tidak usah gambar saja harimau tanpa kepala, badan ekor maupun kaki. Rajah seperti apa yang tuan butuhkan?
Dari cerita ini seorang filiosof islam Al-Kinddi dalam kitabnya menggambarkan tentang perjuangan yang membutuhkan rasa sakit, Cita-cita yang membutuhkan pengorbanan. Bagaimana mungkin seorang pemuda ingin mendapatkan rajah tato harimau sedang dia tidak tahan terhadap rasa sakit dalam proses pembuatannya. Jika kita kita ingin meraih cita-cita ketaqwaan tentu butuh pengorbanan dan pengorbanan itu adalah rasa lapar. Lapar adalah salah satu bentuk penderitaan sehingga banyak program Negara di dunia ini salah satunya menghilangkan rasa lapar dikalangan bangsa dan rakyat.
Kita disuruh lapar, haus disuruh menahan kebutuhan biologis yang derajatnya setingkat dengan hayawan, apa beda derajat kita dengan mereka padahal kebutuhan kita tetap sama dan untuk membedakan itu kita harus mampu menahan kebutuhan-kebutuhan yang non biologis bahkan tidak hanya biologis, tetapi apabila kebutuhan biologis yang terdiri dari makan, minum dan meloakukan hubungan suami istri tidak sanggub kita tahan derajat kita dibawah binatang ternak. Tetapi bila kita mampu untuk menahan kebutuhan yang non biologis yaitu amarah , caci maki sabar, tidak tergesa-gesa dan mampu mempuasakan mata hingga hati baru beda derajat kita dengan binatang ternak/ melata.
Perjuangan Yang Membutuhkan Rasa Sakit
Mari kita evaluasi sudah sudah sampai ditingkat apa kedewasaan ruhani kita. Salah satu indicator yang diajarkan ilmuan pakar psikologi analisis sangat sederhana, jika seorang anak mendapatkan
kenikmatan pada saat memasukan semua benda dalam mulutnya , maka kita yang sudah dewasa dan sudah puasa puluhan kali, bila kita mendapatkan kenikmatan ketika memasukan semua benda dalam mulut kita ruhani kita pada 1 tahun kebawah karna hanya bayi yang memasukan semua benda dalam mulutnya.
Oarng dewasa yang mendapatkan kenikmatan ketika dia melihat tumpukan harta kotornya. Berarti ini perkembangan ruhani pada pase anal, tak lebih dari anak dari 1 – 4 tahun.
kenikmatan pada saat memasukan semua benda dalam mulutnya , maka kita yang sudah dewasa dan sudah puasa puluhan kali, bila kita mendapatkan kenikmatan ketika memasukan semua benda dalam mulut kita ruhani kita pada 1 tahun kebawah karna hanya bayi yang memasukan semua benda dalam mulutnya.
Oarng dewasa yang mendapatkan kenikmatan ketika dia melihat tumpukan harta kotornya. Berarti ini perkembangan ruhani pada pase anal, tak lebih dari anak dari 1 – 4 tahun.
Pase ketiga bagi orang dewasa yang masih main-main dengan alat kenital berarti ruhani nya masih pada anak usia 5 – 7 tahun. Bagi orang dewasa libido itu adalah keinginan untuk menikmati apapun dengan cara apapun halal atau haram. Itulah takaran perkembangan ruhani kita secara psikologis dan mari kita evaluasi ruhani kita. Apakah sudah pada pase dewasa, imannya mantap, ilmunya mendalam wawasanya luas ahlaknya terpuji dan bila sampai pada itu inilah al-muttaqun. Yang dilatih selama sebulan universitas Ramadhan yang rektornya langsung Allah SWT.
Mudah-mudahan kita mencapai derajat ketaqwaan.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

0 komentar:
Posting Komentar